Waktu terus bergulir setelah pengumuman raja baru. Kota kerajaan mulai berbenah, taman-taman dipercantik, pasar kembali ramai, dan suara alat-alat kerja bergema di penjuru jalan. Tapi di tengah geliat itu, tiba-tiba kabar angin menyeruak.
Raja yang baru saja terpilih, dituduh berbuat curang.
Aduan itu datang dari sosok yang sama—yang tak pernah berkeringat untuk kerajaan, tapi sibuk membangun panggungnya sendiri. Seorang yang terus berusaha mengubah bayangannya menjadi kenyataan.
Raja hanya berdiam. Tak satu pun kata pembelaan meluncur dari istana. Kepada penasihatnya ia berkata, “Tak perlu menjawab. Orang-orang bijak tahu tujuan dari tuduhan ini.”
Namun gelombang itu tak berhenti. Surat terbuka beredar, mendesak agar pemilihan ulang dilakukan. Surat itu datang dari orang-orang yang merasa dunia masih bisa dibengkokkan untuk mengakomodasi ambisi yang tertunda.
Namun rakyat… tidak bodoh.
Di pasar-pasar, di rumah-rumah, dan di balai-balai kecil, pembicaraan menggema: mereka menolak. Mereka tidak ingin keributan kembali menyelimuti kota yang baru saja menemukan ketenangan.
Di sebuah sore, di bawah pohon zaitun yang sama, Plato dan Aristoteles kembali duduk berdua. Mengamati riuh rendah dari kejauhan.
“Plato,” kata Aristoteles perlahan, “mengapa orang-orang seperti itu tak pernah lelah memperjuangkan ambisinya, meski tak berakar pada kebaikan?”
Plato tersenyum tipis. “Karena bagi sebagian orang, kekuasaan bukan sarana untuk berbuat kebaikan. Ia adalah tujuan itu sendiri. Seperti seorang pemburu yang lupa mengapa ia berburu. Yang tersisa hanya naluri untuk menaklukkan.”
Aristoteles mengangguk. Ia memandang ke arah istana yang berdiri gagah, lalu ke arah kerumunan rakyat yang mulai jenuh dengan drama ini.
“Kebaikan,” lanjut Plato, “bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah. Tapi tentang apakah proses itu membawa manfaat untuk banyak orang. Jika kebaikan telah dinyatakan, dan rakyat telah mengamini, maka berulang-ulang menggugatnya hanya akan melahirkan keburukan baru.”
“Dan pemimpin sejati,” sambung Aristoteles, “adalah mereka yang tahu kapan berbicara, dan kapan diam.”
Plato mengangguk pelan. “Diam bukan berarti kalah. Diam bisa jadi pertanda bahwa kita percaya pada kekuatan kebenaran itu sendiri, tanpa perlu membungkusnya dengan retorika yang kosong.”
Mereka terdiam sejenak, membiarkan filosofi itu menggantung di udara.
“Jadi, apa yang seharusnya terjadi, Plato?” tanya Aristoteles.
Plato menatap jauh ke ufuk senja. “Biarkan kebenaran berjalan dengan tenangnya sendiri. Biarkan rakyat memilih untuk tetap waras. Yang mencintai kerajaan ini, akan memilih untuk melanjutkan kerja. Yang hanya mencintai dirinya sendiri, akan terperangkap dalam permainannya sendiri.”
Aristoteles menghela napas panjang. “Kita hanya bisa berharap, Plato, bahwa rakyat lebih bijak dari para penuntut itu.”
Plato tersenyum. “Harapan itu tak pernah sia-sia, sahabatku. Selama masih ada orang yang memilih bertanya, bukan hanya berteriak.”
Mereka berdua kembali menatap Agora yang perlahan menenangkan dirinya. Dan di hati mereka, doa diam-diam terucap: agar kerajaan ini tidak jatuh pada tipu daya ambisi, tapi tetap tegak di atas kebaikan dan akal sehat.